بسم الله الرحمن الرحيم

KHUTBAH IDUL FITRI 1428 H (Hizbut Tahrir)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر 9×

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّياَمَ، وَنَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّناَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وأُصَلِّيْ وَاُسَلِّمُ عَلَى الْقَائِدِ وَالْقُدْوَةِ مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ وَمَنْ جاَهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ!

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd

Yaa Allah, Maha Agung asma-MU. Wahai Dzat yang Maha Adil dan Maha luas kasih sayang-Nya. Maha tinggi kemuliaan-Mu yaa ‘Aziiz, wahai Dzat yang senantiasa mencurahkan rahmat dan nikmat kepada para hamba-Nya. Maha besar kekuasaan-Mu yaa Maalik.

Yaa Rahman, inilah kami para hamba-Mu. Kami datang bersimpuh di hadapan kebesaran-Mu. Inilah kami, yaa ‘Aziiz, makhluk-makhluk-Mu yang lemah dan tak berdaya, kini duduk di hadapan altar kemuliaan dan keagungan-Mu. Ya Rahiim, inilah kami hamba-Mu yang tak pernah luput dari kesalahan dan dosa, sering lalai dan alpa, yang acapkali bertengkar untuk memperebutkan bangkai-bangkai dunia; kini kami hadir menyerahkan segenap jiwa dan raga di depan pintu kekuasaan-Mu. Yaa Ghaani, inilah kami, orang-orang fakir yang menundukkan kepala karena malu kepada-Mu, kini kami menengadahkan tangan-tangan kami untuk memohon belas kasih-Mu.

Yaa Allah, Yaa Rahman, yaa Rahiim. Kami yang berkumpul di tempat ini, pada pagi ini, adalah para hambu-Mu. Saat Ramadhan kami tertatih-tatih mendekatkan diri kepada-Mu karena berharap kasih sayang-Mu. Yaa Allah, setiap saat kami berusaha mengetuk pintu-Mu dengan rasa lapar dan dahaga. Yaa Allah, setiap malam kami berusaha membaca al-Quran untuk memahami petunjuk-Mu. Setiap saat kami menyeru-Mu dengan dzikir dan doa. Semua itu, yaa Rahman, hanya untuk menggapai ridla dan janji-Mu. Engkaulah Dzat yang maha mengetahui apa yang telah kami lakukan.

Bagi-Mu, segala puji wahai Dzat yang telah menunjuki kami dengan agama-Mu. Kami bersaksi, bahwa tiada Rabb yang patut disembah selain Engkau, wahai Dzat yang Maha Agung dan Maha Mulia, yang keagungan dan ke-muliaan-Mu tidak akan sirna, meskipun seluruh manusia Kafir dan durhaka kepada-Mu. Yaa Rahman, kami bersaksi, bahwa Nabi Muhammad saw. adalah utusan-Mu, suri teladan bagi seluruh umat manusia. Shalawat dan salam semoga Engkau limpahkan kepada beliau saw, keluarga, kerabat dan shahabat beliau, serta kaum Muslim yang secara konsisten dan konsekuen menjalankan dan mendakwahkan ajarannya hingga Hari Kiamat.

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd

Hadirin yang dimuliakan Allah. Ramadhan berlalu sudah. Kini kaum Muslim menggemakan takbir, tahlil dan tahmid serentak di seluruh dunia sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan kekuatan untuk mendirikan ibadah di bulan Ramadhan; shaum mulai terbit fajar sampai matahari terbenam, membaca al-Quran, menghidupkan malam dengan tarawih, i’tikaf, dan berdzikir. Bulan yang membuat orang Mukmin berlinang air mata, mengingat akan kealpaan, dosa, kelalaian, dan kemaksiatan diri. Bulan untuk introspeksi diri terhadap apa yang telah dilakukan. Semuanya itu ditujukan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Inilah bulan yang Allah telah berikan kesempatan kepada kita untuk berkaca dan memperbaiki diri. Inilah Bulan yang Allah SWT limpahkan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Inilah Bulan yang Allah SWT janjikan ampunan. Ampunan atas seluruh dosa kita sebelumnya, sehingga kita bagaikan manusia yang terlahir kembali. Subhanallah Allahu Akbar.

Ada getar keharuan dalam hati kita. Ramadhan yang barakah, berlimpah rahmat, dan ampunan Allah, telah meninggalkan kita. Akankah kita bertemu dengan Ramadhan berikutnya? Jujur kita menjawab Wallahu a’lam. Tidak tahu.

Ramadhan telah berlalu. Ada pertanyaan penting yang perlu kita tanyakan pada diri kita. Apakah shaum kita telah berhasil? Bisakah kita disebut berhasil dan meraih kemenangan, sementara Ramadhan kita tidak banyak berpengaruh terhadap penyelesaian persoalan utama umat. Apakah pantas kita disebut berhasil, sementara umat tetap saja hidup menderita. Musuh-musuh Allah, kaum Kuffar, masih saja membunuhi kaum Muslim . Penguasa-penguasa di negeri-negeri Islam juga masih saja tidak melindungi rakyatnya. Mereka juga tidak peduli apakah kebutuhan bahan pokok rakyatnya terjamin atau tidak. Bahkan penguasa-penguasa negeri Islam lebih mementingkan ridha negara-negara Kafir penjajah, meskipun harus memenjarakan, menzalimi, bahkan membunuh rakyatnya sendiri.

Pada hari ini pun kita menyaksikan betapa para pemimpin dan politisi lebih sibuk bertikai, saling berebut kursi, saling menipu demi kekuasaan dan kedudukan, juga demi harta. Mengapa umat Islam masih diliputi oleh kemiskinan dan kebodohan? KKN dan berbagai penyimpangan pun masih merajelala. Belum lagi perjudian, pornografi, pelacuran, masih saja berjalan, bahkan di bulan Ramadan sekalipun. Kriminalitas, seperti pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, dan lain-lain masih merupakan bagian dari keseharian hidup masyarakat kita.

Pada hari ini pun kita masih menjadi saksi, betapa negara-negara Kafir penjajah, seperti Amerika dan Inggris bertindak semena-mena terhadap kaum Muslim. Isu terorisme juga telah menjadi senjata ampuh bagi negara-negara imperialis Barat, yang dipimpin oleh AS dan Inggris, beserta sekutunya, seperti Australia, untuk menguasai dan mencengkram negeri-negeri Islam. Bahkan, kini AS dan Inggris telah menjadikan perang melawan terorisme sebagai kedok untuk memerangi Islam, dengan memerangi syariah dan Khilafah. Karena mereka sadar, bahwa kembalinya syariah dan Khilafah yang kedua kalinya di muka bumi ini tidak bisa dibendung lagi. Maka, secara spesifik, isu itu digunakan untuk menggiring opini publik dunia pada suatu perang global terhadap kaum Muslim yang memperjuangkan kembalinya supremasi Islam, bukan saja sebagai agama ritual, tetapi juga sebagai ajaran politik yang agung. Mereka paham, bahwa perjuangan penegakan syariah secara nyata telah mengancam hegemoni sistem Kapitalisme yang menjajah dunia, khususnya dunia Islam, saat ini.

Sementara itu, di negeri-negeri Islam yang lain, penderitaan kaum Muslim tidak kalah tragisnya. Umat Islam di berbagai negeri Muslim hingga kini masih tetap dalam keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan di tengah-tengah sumberdaya alam mereka yang melimpah ruah. Afganistan dan Irak, hingga kini tetap diduduki kaum Kafir penjajah pimpinan AS. Kaum Muslim di Palestina juga masih tetap menderita dalam cengkeraman Yahudi Israel. Di Asia Tengah, seperti Uzbekistan dan Kirgistan, umat Islam pun masih tetap dalam belenggu kekejaman para penguasa diktator, yang menjadi agen kaum Kafir penjajah. Demikian juga yang terjadi di Chechnya, Dagestan, Khasmir, Pattani dan Philipina.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,…!

Inilah, sekilas potret keterpurukan kaum Muslim saat ini. Saat ini kita memang tengah merayakan Idul Fitri, mengumandangkan takbir, tetapi takbir itu dikumandangkan di tengah situasi kita yang saat ini tetap terbelenggu kekalahan dan ketertindasan. Mengapa semua ini masih terjadi? Apa sebenarnya yang menyebabkan semua itu terjadi? Jika kita meneliti dengan cermat, sesungguhnya penyebab utama dari keterpurukan kaum Muslim saat ini karena kehidupan mereka yang tidak diatur oleh Islam. Islam telah dicampakkan dalam kehidupan.

Memang benar, saat ini kaum Muslim masih shalat dengan menggunakan aturan Islam, mengerjakan puasa dengan aturan Islam, beribadah haji dengan aturan Islam, menikah dengan aturan Islam, mengurus jenazah dengan aturan Islam. Tetapi, dalam urusan pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pidana mereka mencampakkan Islam. Sikap seperti ini jelas menggambarkan sikap menerima sebagian Islam dan menolak sebagian yang lain. Padahal Allah SWT telah memperingatkan kita terhadap perbuatan tersebut. Allah berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (TQS. Al-Baqarah [2]: 85)

Sikap mengambil sebagian dari Islam dan mencampakkan sebagian yang lain, juga merupakan sikap yang bertentangan dengan fitrah manusia. Sebab fitrah manusia membutuhkan Dzat yang Maha Kuasa, yaitu Allah SWT; karena manusia memang makhluk yang lemah dan terbatas. Membutuhkan kepada sesuatu Yang Maha Kuasa, berarti juga membutuhkan hukum dan aturan-aturan yang berasal dari-Nya. Jadi, ketika manusia mencampakkan aturan-aturan Allah, maka dia telah menyimpang dari fitrahnya, dan inilah yang menjadi sumber bencana baginya.

Allahu Akbar (3x), wa lillahil hamd

Karena itu, Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…, Jika dengan menjalankan puasa Ramadhan, kaum Muslim ingin kembali pada fitrahnya; semestinya, kembali kepada fitrah ini juga harus dipahami dengan kembali kepada hukum dan aturan-aturan Allah dalam mengatur seluruh aspek kehidupan mereka. Dengan kata lain, kembali kepada fitrah adalah kembali kepada syariah Allah, yaitu syariah Islam, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan kita. Inilah fitrah manusia yang seutuhnya, dan inilah kunci kemenangan umat Islam.

Ingatlah, bahwa kemenangan demi kemenangan yang berhasil diraih Rasulullah Saw dan para shahabatnya, serta para khalifah sesudahnya, adalah karena mereka menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan mereka. Ini pulalah yang menjadikan generasi Islam terdahulu mampu membangun kekuatan “super power”, Negara Khilafah, yang disegani kawan dan ditakuti lawan. Negara Khilafah inilah yang mampu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya, baik Muslim maupun Non-Muslim. Yang mampu melahirkan para pejuang Islam yang tangguh dalam mengemban misi-misi pembebasan di berbagai negeri. Yang mampu menumbuh-suburkan perkembangan sains dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia. Yang mampu menjadikan negeri Islam sebagai kiblat perkembangan sains dan teknologi, di saat bangsa Eropa masih tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan.

Negara Khilafah ini pulalah yang ketika itu mampu membebaskan Andalusia dan Konstantinopel. Yang mampu menjaga persatuan dan kesatuan negeri-negeri Islam. Yang mampu merebut dan mempertahankan negeri Palestina dari tangan-tangan kotor tentara Salib. Yang mampu menjaga dan melindungani rakyatnya dari ancaman musuh-musuh yang akan membinasakan mereka. Yang mampu memaksa Amerika untuk membayar pajak tahunan dan menandatangani perjanjian yang tidak menggunakan bahasa mereka, melainkan dengan bahasa (Arab), bahasa Negara Khilafah.

Inilah kondisi kaum Muslim ketika mereka menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan mereka. Kondisi ini jelas berbeda dan bertolak belakang dengan kondisi kaum Muslim saat ini, ketika mereka mencampakkan Islam; atau ketika mereka hidup tidak lagi sejalan dengan fitrahnya. Berbagai krisis pun menimpa mereka, sehingga kehidupan mereka pun terpuruk. Jika demikian halnya, masihkah ada peluang dan harapan untuk mengatasi keterpurukan kaum Muslim saat ini?

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd

Hadirin jamaah shalat ‘Idul Fitri yang dirahmati Allah SWT

Secara global, peradaban Barat dengan Kapitalisme dan imperialismenya telah menciptakan tatanan dunia yang timpang, zalim, dan merusak. Mereka bicara tentang penentuan nasib sendiri dan demokrasi, tetapi mereka mendukung para diktator dan tiran di seluruh dunia Islam. Mereka bicara tentang supremasi hukum dan perdamaian Timur Tengah, realitasnya mereka menjajah, membunuh, menjarah, menduduki tanah-tanah kaum Muslim. Lihatlah betapa 650.000 jiwa mati di Irak dan ratusan ribu lainnya di Afghanistan. Mereka bicara tentang keringanan hutang, tapi nyatanya mereka menjerat negeri-negeri Muslim melalui IMF dan Bank Dunia. Mereka bicara tentang pemberantasan korupsi, tetapi mereka sendiri menyogok ratusan juta dolar kepada para penguasa negeri Muslim untuk mendapatkan kontrak dagang. Mereka bicara tentang HAM, tetapi lihatlah realitasnya di Guantanamo Bay dan Abu Ghraib. Itu adalah bukti-bukti kezaliman yang telah diciptakan Barat.

Oleh sebab itu, kita membutuhkan Khilafah. Khilafah berarti penegakkan hukum syariah Islam di tengah kehidupan dan mencampakkan hukum kufur. Khilafah berarti penyatuan negeri-negeri kaum Muslim di bawah kepemimpinan seorang Khalifah. Tegaknya Khilafah berarti berakhirnya perpecahan umat Islam yang memang sengaja diciptakan oleh orang-orang Kafir dan antek-antek mereka. Tegaknya Khilafah berarti mengembalikan ikatan ukhuwah Islamiyah berdasarkan akidah Islam, sesuai dengan firman Allah SWT. ”Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara…” (TQS. 49: 10) dan hadits Rasulullah saw. ”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain”. Ikatan inilah yang menggantikan ikatan jahiliyah yang berdasarkan Patriotisme, Nasionalisme, Sekteranisme dan yang lainnya, yang telah memecah belah umat Islam. Tegaknya Khilafah berarti kembalinya umat Islam mendapatkan kekuasaan yang telah dirampas. Ini berarti pembebasan dari sikap menghamba dan membebek pada Barat Kapitalis dalam seluruh aspek, baik politik, sosial, ekonomi, pemikiran, militer, dan lain-lain. Khilafah berarti pembebasan negeri-negeri Muslim yang dicaplok seperti Irak, Afghanistan, Timor Timur, dan lainnya. Ini juga berarti militer asing agresor, yang telah menumpahkan darah kaum Muslim yang menyebabkan kita hancur, harus hengkang dari negeri-negeri kaum Muslim. Tegaknya Khilafah berarti merealisasikan keamanan industri melalui strategi politik pembangunan dan pengembangan industri berat untuk memproduksi berbagai peralatan, mesin pabrik dan persenjataan. Tegaknya Khilafah berarti kita berhenti mengekor dan mengemis-ngemis di depan pintu negara Barat. Tegaknya Khilafah berarti pemberdayaan sumber daya umat yang sangat besar melalui politik pendidikan yang bertujuan membuka ruang dan kesempatan bagi semua orang. Dengan itu, mereka dapat menjadi manusia yang kreatif, inovatif, dan produktif untuk kepentingan umat. Tegaknya Khilafah berarti mengembalikan kekuasaan umat atas seluruh kekayaannya, sehingga umat menjadi pemilik murni atas kekayaan alamnya. Khilafah berarti terputusnya cengkraman negara Kapitalis yang selama ini merampok harta kekayaan umat.

Hadirin jamaah Rahimakumullah

Allah SWT. berfirman dalam Al-Quran,

ثُمَّ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ أَيَّتُهَا الْعِيرُ إِنَّكُمْ لَسَارِقُونَ. قَالُوا وَأَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ مَاذَا تَفْقِدُونَ. قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ

“Kemudian berteriaklah seseorang yang menyerukan, ’Hai Kafilah, sesungguhnya Kamu adalah orang-orang yang mencuri. Mereka menjawab sambil menghadap kepada penyeru-penyeru itu, ’ Barang apa yang hilang daripada Kamu ?’ Penyeru-penyeru itu berkata, ‘Kami kehilangan piala raja dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta dan akan menjamin terhadapnya.’” (TQS. Yusuf : 70-72)

Sudah menjadi hal yang lumrah, jika seseorang kehilangan sesuatu, ia tidak akan ragu memberitahukan semua hal yang berkaitan dengan sesuatu yang hilang itu. Jadi, kita perlu berteriak hari ini di depan semua penguasa dunia Islam sambil berkata, ”Wahai para Raja, Presiden, Amir dan Sultan! Kami telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga! Jika mereka bertanya tentang apa yang hilang, kita akan menjawab dengan jelas dan lantang, bahwa Khilafah kita telah hilang. Kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Kita telah kehilangan sejak runtuhnya kekhilafahan Islam Turki Utsmani sekitar delapan puluh enam tahun yang lalu. Kita kehilangan sesuatu yang luar biasa, dan di luar bayangan kita.

Kami percaya, bahwa itu akan berguna bagi kaum Muslim agar mereka tahu bahwa diri mereka telah kehilangan, sehingga mendorong diri mereka untuk berusaha secara langsung bersama orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang mengembalikan Khilafah dan memulai jalan hidup Islam.

Hadirin jamaah shalat ’Idul Fitri Rahimakumullah

Ketahuilah, dengan lenyapnya Khilafah, maka kita, kaum Muslim di seluruh dunia telah kehilangan hal-hal berikut:

1. Kehilangan keridhaan Allah SWT. Sebab, keridhaan Allah SWT hanya dapat dicapai dengan mengikuti seluruh hukum dan aturan-Nya dengan penuh ketaatan sebagaimana dipraktekan oleh Rasulullah saw. Ketiadaan institusi penerapan hukum syariah telah menyebabkan hidup kita tidak berkah, bahkan diliputi berbagai problematika kehidupan yang sangat menyesakkan dada.

2. Kehilangan pemimpin hakiki. Saat ini kita tidak memiliki Imam, Khalifah, atau Amirul Mukminin yang memimpin kesatuan umat ini. Padahal, baiat kepada khalifah merupakan suatu yang amat vital bagi setiap muslim. Keberadaan khalifah sangat menentukan hidup-matinya kaum Muslim; mulia atau terhinanya kaum Muslim; berdosa atau tidaknya kaum Muslim. Bahkan Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada baiat, maka matinya jahiliyah.” Kami ingin saudara sekalian membayangkan betapa besar dosa kita sejak runtuhnya Khilafah Ustmani tahun 1924 yang merupakan Khilafah terakhir. Akhirnya secara spontan banyak yang hilang ketika kaum Muslim kehilangan legitimasi kepemimpinan ini dan kehilangan jati dirinya yang lain bagaikan bola salju.

3. Kehilangan rasa aman dan jaminan keamanan. Hal ini menyebabkan kita umat muslim diliputi perasaan ketakutan setiap saat. Tiada hari tanpa penistaan, tiada hari tanpa pembunuhan, tiada hari tanpa peperangan yang selalu dikobarkan, tiada hari tanpa diliputi perasaan mencekam akibat dari teror yang dilakukan oleh musuh-musuh umat Islam.

4. Kehilangan ilmu pengetahuan dan pendidikan yang sangat penting bagi pembentukan kepribadian Islam. Hal ini berdampak pada tingginya kebodohan, buta huruf, kemiskinan dan kepribadian yang goyah. Kini umat menjadi bangsa yang terbelakang, menjadi bangsa yang selalu mengekor peradaban Barat. Umat tidak memiliki kemandirian dan selalu dipecah belah dan diceraiberaikan oleh musuh-musuh Islam.

5. Kehilangan kekuatan dan jihad yang menyebabkan kelemahan dan kekalahan.

6. Kehilangan kekayaan yang menyebabkan kemiskinan umat. Semua itu akibat penghisapan yang dilakukan Barat melalui ideologi kapitalismenya. Kita umat Islam merupakan umat yang Allah anugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah, tetapi kehidupan umat saat ini miskin, menderita, kelaparan karena kekayaan kita dijarah oleh orang-orang kafir secara sistematis.

7. Kehilangan pencerahan dan pedoman yang benar, yang menyebabkan kaum Muslim berada dalam kegelapan dan pedoman hidup yang salah.

8. Kehilangan kehormatan dan martabat, yang menyebabkan kaum Muslim berada dalam penghinaan.

9. Kehilangan kedaulatan, yang menyebabkan kaum Muslim tergantung pada keputusan politik negara-negara penjajah kafir barat dan timur.

10. Kehilangan keadilan, yang menyebabkan kaum Muslim berada dalam penindasan dan ketidakadilan.

11. Kehilangan keimanan dan keikhlasan, yang menyebabkan banyak terjadi pengkhianatan.

12. Kehilangan sikap dan moral yang terpuji, yang menyebabkan banyaknya kejahatan dan sikap yang tercela.

13. Kehilangan negeri-negeri Islam dan tempat tinggal umat, tidak hanya Palestina tetapi juga Andalusia (sekarang yang disebut Portugal dan Spanyol), wilayah yang luas di Asia Tengah dan Timur Jauh, Kosovo, Bosnia, Kashmir dan yang lainnya, yang menyebabkan jutaan imigran, gelombang pengungsi dan pendeportasian.

14. Kehilangan tempat suci, yang mengakibatkan kaum Muslim dilarang shalat di Masjid Al-Aqsa selama 50 tahun sampai saat ini. Kami juga menyesalkan untuk mengatakannya pada saudara bahwa dua masjid lainnya pun, yaitu Masjid Al-Haram dan Masjid Al-Nabawi, tidak di dalam kondisi yang diinginkan.

15. Kehilangan persatuan, kesatuan, dan integritas, yang menyebabkan kaum Muslim terpecah negeri mereka menjadi 57 bagian secara tidak sah. AS dan sekutunya tengah bekerja keras menciptakan bagian ke 58 di Palestina, dan ke 59 di gurun Afrika Barat.

Allahu Akbar 3x, Hadirin rahimakumullah:

Itulah kehilangan terbesar yang harus disampaikan kepada umat, bahwa semua telah lenyap dari tangan kita. Kita telah banyak mengalami kehilangan yang pada ujungnya kehilangan harga diri dan jati diri sebagai umat yang terbaik, sebagaimana yang Allah nyatakan dalam Al-Quran.

Tentu kita ingat tentang kisah Nabi Yusuf ketika ditawari oleh Raja Mesir hadiah yang sangat besar berkenaan dengan hilangnya bejana emas raja. Hadiahnya adalah seberat beban unta bagi siapa saja yang dapat mengembalikan bejana emas tersebut. Hari ini, umat Islam telah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dan jauh lebih besar lagi dari sekadar kehilangan bejana emas raja Mesir tersebut. Hadiah yang ditawarkan kepada kita agar mengembalikannya tentu lebih besar lagi dari sekadar pemberian Raja Mesir itu. Hal ini sebagaimana dikatakan Rasulullah saw. ketika utusan suku ‘Aus dan Khajzraj bertanya pada saat Bai’at Aqabah kedua, ”Apa imbalannya bagi Kita jika Kami mengabulkan janji untuk mendukung dan melindungi Anda dan pengikut Anda (sahabat)? Beliau berkata, “Surga.” Mereka menjawab, “Ulurkan tanganmu pada Kami untuk membuat kesepakatan. Kami akan melewati kesepakatan kita dan Kami tidak akan mundur.”

Karena itu, siapa saja yang berjuang untuk mengembalikan apa-apa yang telah hilang dari umat ini, melalui perjuangan penegakkan syariah dan Khilafah, tentu Alah akan meberikan imbalan yang amat besar, yaitu kemuliaan di Dunia dan Akhirat.

Allahu Akbar (3x), wa lillahil hamd

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Kita adalah umat terbaik, sekali lagi umat terbaik, yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia. Kita adalah pengikut Rasulullah Saw, Nabi terakhir dan pemimpin para Rasul. Nenek moyang kita adalah para Khulafa’ Ar-Rasyidin, para panglima Mujahidin. Selama Islam yang saudara emban dan saudara perjuangkan, pasti Allah SWT akan menolong kita. Allah berjanji menolong siapa saja yang menolong-Nya, dan janji Allah pasti benar. Bukan hanya untuk para Nabi, tetapi juga untuk orang-orang Mukmin. Semua ini tidak hanya berlaku di Akhirat, dengan kesaksian, ridha, dan surga-Nya; tetapi juga berlaku di Dunia, di mana kemenangan, keberhasilan, dan kebangkitan umat ini benar-benar akan terwujud kembali. Allah SWT berfirman:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat). (TQS. Ghafir [40]: 51)

Akhirnya, di hari yang mulia ini, setelah sebulan penuh kita membangun dan meningkatkan ketakwaan kita selama Ramadhan, yang penuh rahmah dan maghfirah, kami menyerukan kepada seluruh umat Islam, para pimpinan ormas, orpol, ulama, wakil rakyat, wartawan, anggota TNI/Polri, pejabat pemerintah, cendekiawan, usahawan dan serikat-serikat pekerja, serta para pemuda dan mahasiswa, untuk secara sungguh-sungguh mengamalkan syariah Islam dan berjuang bersama bagi tegaknya Khilafah dan syariah secara kaffah, dan menempatkan perjuangan penegakan syariah sebagai agenda utama kaum Muslim. Sesungguhnya, penerapan syariah dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara, merupakan kewajiban setiap Muslim, sekaligus merupakan wujud keberhasilan kita dalam meraih ketakwaan.

Semoga Allah SWT memberi kita kesabaran dan kekompakan, serta memungkinkan saudara untuk memainkan peran yang penting dalam menegakkan dan memperjuangkan datangnya negara Khilafah. Allah SWT berfirman:

فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Maka Allah adalah sebaik-baiknya penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang” (TQS Yusuf: 64])

Allahu Akbar 3x Walillahil Hamd:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kekuatan iman dan semangat untuk menjalankan hukum-hukum Allah SWT. Serta mengelompokkan kita dalam golongan pejuang-pejuang Islam, yang berupaya mewujudkan Khilafah, yang mengikuti manhaj (metode) Nabi Saw. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima di sisi Allah SWT, dan kita berhasil meraih derajat takwa.

اَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَةِ اْلإِسْلاَمِ وَمَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحسْاَنٍ اِلى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَللّهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ بِاْلإيْماَنِ كاَمِلِيْنَ وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ وَلِلدَّعْوَةِ حَامِلِيْنَ وَبِاْلإِسْلاَمِ مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضِيْنَ وَفِي الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِي اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ وَلِلنِّعَمِ شاَكِرِيْنَ وَعَلَى اْلبَلاَءِ صاَبِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ بِلاَدَنَا هَذَا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ سَخَاءً رَخاَءً، اَللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَناَ سُوْأً فَاَشْغِلْهُ فِي نَفْسِهِ وَمَنْ كَادَنَا فَكِدْهُ وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُ فِي تَدْبِيْرِهُ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْناَ فِيْ ضَمَانِكَ وَأَمَانِكَ وَبِرِّكَ وَاِحْسَانِكَ وَاحْرُسْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَ تَناَمُ وَاحْفَظْناَ بِرُكْنِكَ الَّذِيْ لاَ يُرَامُ.

اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ

وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ فَلَسْطِيْنِ وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَ الشَّيْشَانَ، وَ أَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ اُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً تُنْجِيْهِمْ بِهَا النَّارَ وَتُدْخِلْهُمْ بِهَا الْجَنَّةَ. اَللَّهُمَّ اَيُّمَا عَبْدٍ اَوْ أَمَةٍ مِنْ اُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ يُحِبُّنَا وَيَدْعُوْ لَنَا فَثَقِّلْ مِيْزَانَهُ وَحَقِّقْ اِيْمَانَهُ وَاجْعَلْهُ فِي الْجَنَّةِ الْفِرْدَوْسِ اْلاَعْلَى. وَاَيُّمَا عَبْدٍ اَوْ اَمَةٍ مِنْ اُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَلَى خَطَأِ وَهُوَ يَظُنُّ اَنَّهُ عَلىَ الْحَقِّ فَرُدَّهُ اِلَى الْحَقِّ رُدًّا جَمِيْلاً. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا ِلإِخْوَانِناَ الْمُسْلِمِيْنَ حَيِّنِيْنَ لَيِّنِيْنَ سَهِّلِيْنَ حَبِيْبِيْنَ قَرِيْبِيْنَ. وَنَسْأَلُكَ اَنْ تَجْعَلَناَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُيَسِّرِيْنَ وَلاَ تَجْعَلَناَ مُعَسِّرِيْنَ وَمُنَفِّرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ الْكَرِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ اَبْصَارِنَا وَذَهَابَ أَحْزَانِنَا وَجَلأََ هُمُوْمِنَا، اَللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا وَذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا وَارْزُقْنَا تِلاَوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَ أَطْرَافَ النَّهَارِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَحِلُّوْنَ حَلاَلَهُ وَيُحَرِّمُوْنَ حَرَامَهُ وَيَتْلُوْنَ حَقَّ تِلاَوَتِهِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا لَنَا فِي حَيَاتِنَا وَمُؤْنِسًا لَنَا فِي قُبُوْرِنَا وَحُجَجًا لَنَا مِنَ النَّارِ وَقَائِدًا لَنَا اِلَى الْجَنَّةِ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التُّقَى وَ الْعَفَافَ وَالْغِنَى نَاتِجَةً مِنْ صِيَامِنَا وَ اجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، كُلُ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْرٍ

اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته